Implementasi Pembelajaran Berbasis Masalah pada Pelajaran Akidah dan Akhlak di Pesantren Hilal Bogor
DOI:
https://doi.org/10.56146/khidmatussifa.v5i1.493Abstract
IMPLEMENTASI PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH DALAM PELAJARAN AKIDAH DAN AKHLAK DI PESANTREN HILAL BOGOR
Nasehudin[1], Puad Hasan[2], Rendra Fahrurrozie[3]
STAI Sirojul Falah Bogor, Jawa Barat, Indonesia
Email : Nashudin25@gmail.com, puadhasan@stitsifabogor.ac.id, Rendra.fr@staisifabogor.ac.id
Abstract : This study aims to examine the implementation of Problem-Based Learning (PBL) in the Akidah Akhlak (Islamic Creed and Ethics) subject at Pesantren Hilal Bogor. The research focuses on understanding how PBL is planned and implemented, the supporting and inhibiting factors affecting its implementation, the roles of teachers and students (santri) in the learning process, as well as the impact of PBL on students' understanding of Akidah Akhlak and their moral behavior. This qualitative research employs a case study approach, with data collected through observations, interviews with teachers and pesantren leadership, and documentation analysis at Pesantren Hilal Bogor. The results indicate that the implementation of PBL follows five structured stages: (1) orienting students to contextual problems, (2) organizing small group work, (3) guiding and gathering information by students using primary Islamic sources, (4) developing and presenting solutions, and (5) reflecting on and evaluating the learning process.
This study demonstrates that PBL significantly improves students' understanding of core Islamic concepts and critical thinking skills, while also exerting a positive impact on students' daily moral behavior.
Keywords: Problem-Based Learning, Akidah Akhlak, Pesantren, Critical Thinking, Moral Behavior.
PENDAHULUAN
Akidah menempati posisi yang paling pokok dalam Islam karena merupakan dasar keimanan yang menentukan benar dan lurusnya seluruh amal dan perilaku seorang muslim. Tanpa akidah yang sahih, ibadah apapun akan kehilangan makna dan rawan terjatuh ke dalam penyimpangan seperti syirik, bidah, atau kekufuran. Akidah (العقيدة) secara bahasa berarti ikatan atau keyakinan yang teguh yang menghubungkan hati dengan kebenaran yang diyakini. Akidah yang benar menjadi filter terhadap semua amal sehingga hanya ibadah yang tulus, ikhlas, dan sesuai dengan ajaran Allah yang diterima. Dengan jiwa yang terpaut kuat kepada Allah, seorang muslim akan didorong untuk berakhlak mulia, jujur, amanah, sabar, dan bertanggung jawab dalam kehidupan sehari-hari.
Disamping akidah, akhlak memegang posisi sentral dalam Islam karena ia menjadi ekspresi nyata dari keimanan dan ibadah yang dilakukan seseorang. Rasulullah bersabda bahwa “Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya”. Dalam konteks ini, Islam menekankan bahwa amal ketaatan hanya berarti jika diiringi budi pekerti yang mulia. Oleh karena itu pelajaran akidah dan akhlak di pesantren menempati posisi strategis karena menjadi poros utama pembentukan keimanan dan karakter santri dalam bingkai Islam yang utuh. Di pesantren, ilmu agama tidak hanya diajarkan sebagai hafalan kitab, tetapi harus diwujudkan dalam sikap, perilaku, dan akhlak sehari-hari.
Namun, di banyak pesantren, metode yang dominan masih ceramah, hafalan, dan tanya jawab langsung, sehingga partisipasi santri kurang optimal dan pembelajaran cenderung satu arah. Fenomena ini menyebabkan kesenjangan antara pemahaman teoritis (kognitif) dengan implementasi moral kontekstual santri saat menghadapi dinamika zaman, seperti kasus syirik terselubung, konflik sesama santri, pengaruh media sosial, dan perilaku tidak jujur. Sebagai solusinya, model Pembelajaran Berbasis Masalah atau Problem-Based Learning (PBL) dipandang sebagai alternatif yang strategis untuk mendorong santri berpikir kritis, berdiskusi, dan menemukan solusi mandiri berpedoman pada dalil syar'i.
Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut, fokus penelitian ini dirumuskan sebagai berikut:
- Bagaimana perencanaan dan proses pelaksanaan PBL dalam mata pelajaran Akidah Akhlak di Pesantren Hilal Bogor?
- Apa saja faktor pendukung dan penghambat implementasi PBL di Pesantren Hilal Bogor?
- Bagaimana dampak penerapan PBL terhadap pemahaman konsep serta perilaku akhlak keseharian santri di Pesantren Hilal Bogor ?
LANDASAN TEORITIS
Secara makro, pembelajaran akidah dan akhlak berfungsi menanamkan fondasi tauhid dan budi pekerti luhur. Pembelajaran ini mencakup aspek kognitif (pemahaman konsep tauhid, rukun iman, dan larangan syirik), aspek afektif (penghayatan sikap jujur, sabar, santun, toleran, dan bertanggung jawab), serta aspek psikomotorik (pengamalan nyata budi pekerti luhur dalam interaksi sosial).
Ayat Alquran tentang berakidah yang benar “Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun..." (QS. An-Nisa: 36). Dan Hadis yang menjelaskan tentang akidah yang benar Dari Mu’adz bin Jabal radhiyallahu 'anhu, Rasulullah ﷺ bersabda: "Wahai Mu’adz, tahukah kamu apa hak Allah atas hamba-hamba-Nya dan apa hak hamba atas Allah?" Mu'adz menjawab, "Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui." Beliau bersabda, "Hak Allah atas hamba-hamba-Nya adalah mereka beribadah kepada-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatupun. Sedangkan hak hamba atas Allah adalah Allah tidak akan mengazab orang yang tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatupun." (HR. Bukhari dan Muslim)
Ayat Alquran tentang akhlak mulia yaitu "Dan sesungguhnya engkau (Muhammad) benar-benar berbudi pekerti yang agung” (Qs. Al Qolam : 4). Tanpa akhlak yang mulia, sesungguhnya keislaman seseorang baru separuh sempurna, sebagaimana disebutkan dalam hadis bahwa “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.”
Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem-Based Learning)
Menurut John Dewey, pengalaman aktif dalam memecahkan masalah adalah sumber utama belajar. Kelas ideal harus menjadi laboratorium sosial tempat murid menggunakan pendekatan ilmiah untuk mengamati, merumuskan hipotesis, dan menguji solusi. Graaff (2003) menambahkan bahwa PBL adalah model pembelajaran di mana sumber pendidikan berasal dari masalah dunia nyata, sehingga siswa dituntut mengenali masalah, mencari informasi, dan menemukan cara memecahkannya secara kolaboratif dan kontekstual. Dalam konteks pendidikan Islam, Nurhadi dkk. (2009) serta Sofyan & Komariah (2016) mengemukakan bahwa PBL mengalihkan fokus pembelajaran dari performa guru (teacher-centered) menjadi keaktifan peserta didik (student-centered) dalam menguraikan masalah sosial-keagamaan yang kompleks.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan tujuan untuk memahami fenomena yang dialami subjek penelitian secara holistik. Penelitian dilaksanakan di Pesantren Hilal Bogor pada tahun ajaran 2026. Sesuai dengan metodologi kualitatif dari Lexy J. Moleong, tahapan penelitian dibagi menjadi tiga fase utama:
- Tahap pra‑lapangan (persiapan dan perumusan awal) meliputi :
- Perumusan masalah dan tujuan penelitian, yaitu menetapkan fokus penelitian tentang implementasi PBL pada mata pelajaran Akidah Akhlak di Pesantren Hilal Bogor.
- Penetapan fokus penelitian dan paradigma (misalnya paradigma kualitatif‑studi kasus).
- Penyusunan instrumen awal seperti pedoman observasi, pedoman wawancara, dan kajian dokumentasi terkait kurikulum Akidah Akhlak dan PBL.
- Tahap pelaksanaan penelitian (pengumpulan data). Langkah‑langkahnya yaitu :
- Orientasi di lapangan (Pesantren Hilal Bogor)
Mengenal konteks pesantren, membangun kepercayaan (trust) dengan guru, kiai, dan santri, serta memahami jadwal kegiatan pembelajaran Akidah Akhlak berbasis masalah.
- Pengumpulan data
Menurut Moleong, sumber data utama adalah kata‑kata dan tindakan, sedangkan dokumen hanya sebagai data pendukung.
- Pencatatan dan transkripsi
Data hasil observasi, wawancara dan catatan lapangan direkam dan ditranskripsi menjadi teks tertulis, sehingga siap dianalisa.
(Lexy J. Moleong, 2021)
HASIL DAN PEMBAHASAN
Berdasarkan hasil penelitian implementasi Pembelajaran Berbasis Masalah (PBL) pada pelajaran akidah dan akhlak di Pesantren Hilal Bogor, yang penulis jelaskan berdasarkan tahapan Richard Arends (2012).
Orientasi Siswa (santri) pada MasalahPengajar mengumpulkan santri yang akan belajar pelajaran akidah/akhlak, lalu pengajar menjelaskan tujuan pembelajaran pada santri, menyiapkan logistik dan instrumen yang dibutuhkan, serta memotivasi santri untuk terlibat dalam aktivitas pemecahan masalah yang dipilih.
Mengorganisasi Siswa Untuk BelajarPengajar membantu santri untuk membuat kelompok, lalu menentukan batasan masalah yang akan didiskusikan, lalu pengajar memberi tugas pada santri untuk mendefiniskan dan mengorganisasikan tugas belajar yang berhubungan dengan masalah yang telah ditetapkan.
Membimbing Penyelidikan Individual/KelompokPengajar membimbing (kelompok) santri melakukan analisis, mendorong santri untuk mengumpulkan informasi terkait, melaksanakan eksprimen, mencari penjelasan serta solusi dari tema yang telah ditetapkan.
Mengembangkan dan Menyajikan HasilSantri/kelompok dibantu pengajar untuk merencanakan dan menyiapkan karya yang sesuai dengan tema yang telah ditetapkan, membuat laopran analisis, membuat video lalu mempresentasikannya didepan kelas.
Menganalisis dan Mengevaluasi Proses Pemecahan MasalahPengajar membantu santri untuk melakukan refleksi atau evaluasi terhadap analisis santri (kelompok) serta menjabarkan metode dan referensi apa yang mereka gunakan dalam proses analisis.
Masalah-masalah yang diangkat meliputi:
- Konflik antar santri misalnya kasus ketidakdisiplinan, egoisme kelompok asrama, sikap tidak sabar, atau tidak saling menghargai sesama santri.
- Syirik terselubung misalnya pemahaman kontemporer mengenai ramalan, jimat modern, pesugihan, atau takhayul digital yang dapat merusak kemurnian tauhid.
- Penyimpangan media sosial misalnya penggunaan internet yang tidak sesuai syariat seperti penyebaran hoaks, ghibah digital, dan perundungan siber (cyberbullying).
- Pelanggaran aturan misalnya perilaku tidak jujur saat ujian, ketidakdisiplinan ibadah wajib/sunnah, atau mengambil hak milik santri lain.
Peran Guru dan Keterlibatan Santri
Model PBL mengubah dinamika kelas secara signifikan. Peran guru mengalami pergeseran menjadi fasilitator, motivator, dan pembimbing. Sebagai fasilitator, guru menyediakan lembar kerja dan mengarahkan jalannya lalu lintas diskusi. Sebagai motivator, guru menumbuhkan rasa percaya diri santri yang pasif untuk berani berpendapat. Sebagai pembimbing, guru meluruskan logika berpikir santri saat membedakan antara akhlak terpuji dan tercela berdasarkan dalil syar'i. Di sisi lain, santri bertransformasi menjadi subjek aktif pembelajaran. Mereka belajar untuk saling mendengarkan, menghargai perbedaan pendapat, berkomunikasi secara santun, dan memikul tanggung jawab bersama dalam kelompok.
Faktor Pendukung Implementasi PBL
Berdasarkan analisis data lapangan, terdapat lima faktor pendukung utama yang memfasilitasi keberhasilan PBL di Pesantren Hilal Bogor, yaitu:
- Komitmen guru dan dukungan pimpinan pesantren (Kiai dan Mudir) memberikan kebebasan, legalitas, serta apresiasi terhadap inovasi metode pembelajaran. Komitmen guru yang tinggi untuk berkembang membuat mereka terbuka terhadap penerapan sintaks PBL.
- Budaya pesantren yang religius dan kolektif adalah kultur kehidupan pesantren yang berbasis kebersamaan (jama'ah) membuat santri terbiasa hidup berdampingan, bekerja sama, dan saling membantu. Pola hidup kolektif ini sangat adaptif terhadap model diskusi kelompok kecil dalam PBL.
- Pesantren menyediakan perpustaka an yang kaya akan kitab-kitab tafsir, hadis, hukum fikih, dan buku akhlak yang memadai sebagai rujukan ilmiah autentik bagi santri dalam memecahkan masalah keagamaan.
- Kesadaran pentingnya pembelajar an kontekstual artinya adanya pemahaman bersama antara pengelola dan pengajar bahwa pembelajaran nilai agama tidak boleh sekadar menjadi menara gading, melainkan harus menyentuh realitas problem sosial santri.
- Keterampilan kolaborasi santri yaitu pola interaksi harian santri di asrama mempercepat proses adaptasi mereka dalam berorganisasi dan memecahkan konflik internal secara musyawarah di dalam kelas.
Faktor Penghambat Implementasi PBL
Meskipun membawa hasil positif, penelitian ini juga mengidentifikasi enam faktor penghambat utama yang dihadapi di lapangan, antara lain:
- Keterbatasan waktu dan tuntutan metode konvensional. Sintaks PBL membutuhkan durasi yang panjang (mulai dari pembacaan skenario hingga presentasi). Di sisi lain, alokasi waktu pelajaran akidah atau akhlak di kelas sering kali terbatas (misalnya hanya 90 menit), sehingga proses belajar terkadang terasa terburu-buru. Selain itu, dominasi kebiasaan metode ceramah satu arah membuat transisi ke metode aktif membutuhkan waktu penyesuaian yang lama.
- Kesenjangan kemampuan berpikir kritis antar santri. Latar belakang pendidikan input santri yang variatif menciptakan kesenjangan kognitif, akibatnya dalam diskusi kelompok santri yang memiliki kemampuan akademis tinggi cenderung mendominasi, sementara santri yang berkemampuan rendah menjadi pasif atau kesulitan mengikuti ritme analisis masalah.
- Keterbatasan sarana dan teknologi (ICT). Infrastruktur pendukung teknologi informasi seperti keterbatasan unit komputer, proyektor, dan jaringan Wi-Fi menjadi kendala dalam optimalisasi variasi media pembelajaran. Ditambah lagi dengan adanya kebijakan disiplin pesantren yang membatasi santri membawa handphone pribadi, yang secara langsung mempersempit ruang akses pencarian informasi online secara instan.
- Kurangnya pemahaman guru tentang model PBL secara utuh. Sebagian guru belum mendapatkan pelatihan formal yang mendalam mengenai metodologi PBL. Dampaknya, proses pembelajaran di beberapa kelas terkadang bias dan terjebak menjadi diskusi konvensional biasa tanpa mengikuti sintaks evaluasi proses yang baku.
- Persepsi santri bahwa PBL "Tidak lazim". Terdapat resistensi psikologis dari sebagian santri yang menganggap metode berbasis masalah terlalu rumit dan menyita energi pikiran dibandingkan metode hafalan teks yang biasa mereka lakukan.
- Sistem evaluasi yang belum berbasis proses: Sistem penilaian institusi pesantren secara umum masih berorientasi pada hasil akhir berbentuk tes tertulis (kognitif) dan ujian hafalan matan kitab. Hal ini menyulitkan integrasi instrumen penilaian PBL yang idealnya menitikberatkan pada penilaian proses (authentic assessment), performa kelompok, serta perubahan afektif santri.
Dampak Penerapan PBL terhadap Pemahaman dan Akhlak Santri
Penerapan PBL memberikan implikasi dan dampak positif yang sangat signifikan pada dua domain utama santri:
- Dampak terhadap Pemahaman Konsep (Domain Kognitif)
Melalui analisis masalah nyata, pemahaman santri terhadap prinsip tauhid dan rukun iman bergeser dari sekadar hafalan verbal menjadi pemahaman substantif-konseptual. Santri menyadari implikasi logis dari rusaknya akidah terhadap kehidupan bermasyarakat. Model ini juga berhasil meningkatkan kemampuan berpikir kritis (critical thinking) dan daya analisis solutif santri dalam mendudukkan perkara sosial berdasarkan timbangan syariat Islam. Keterlibatan aktif ini mendongkrak antusiasme dan minat belajar santri di kelas karena materi yang dikaji bersifat aplikatif dan kontekstual dengan kehidupan mereka sehari-hari.
- Dampak terhadap Perilaku Akhlak (Domain Afektif dan Psikomotorik)
PBL berkontribusi langsung pada pembentukan akhlakul karimah yang nyata dalam kehidupan asrama. Karena santri mengonstruksi sendiri konsep moral dan konsekuensi dari sikap buruk lewat diskusi, nilai kejujuran, kesabaran, kesantunan, dan sikap toleransi tumbuh secara internal (bukan karena paksaan). Keterampilan sosial-emosional seperti empati, tanggung jawab kolektif, dan rasa hormat terhadap otoritas kiai serta sesama santri mengalami peningkatan. Selain itu, tercipta kesadaran reflektif yang tinggi di mana santri secara mandiri mengevaluasi kesalahan perilakunya. Dampak jangka panjangnya adalah terjadinya penurunan angka pelanggaran disiplin, meminimalisasi perilaku menyimpang, serta mereduksi potensi konflik atau kesalahpahaman antarsantri di lingkungan Pesantren Hilal Bogor.
SIMPULAN DAN SARAN
Simpulan
- Penerapan Problem-Based Learning (PBL) pada pelajaran akidah dan akhlak di Pesantren Hilal Bogor telah diimplementasikan dengan baik melalui 5 tahap utama: orientasi masalah kontekstual pesantren, pengorganisasian kerja kelompok kecil, pembimbingan penyelidikan berbasis internet, penyajian hasil solusi melalui presentasi, serta evaluasi proses.
- Faktor pendukung utama meliputi komitmen guru, dukungan penuh dari kiai/pimpinan pesantren, serta kultur komunal-religius pesantren yang sangat menopang metode kerja kelompok. Sedangkan faktor penghambat mencakup keterbatas an alokasi waktu jam pelajaran, kesenjangan kemampuan berpikir kritis santri, keterbatasan infrastruktur ICT, dan sistem evaluasi lembaga yang masih dominan berbasis tes kognitif tertulis.
- Penerapan PBL terbukti memberikan dampak positif yang signifikan. Secara akademik, PBL meningkatkan kemampuan berpikir kritis dan pemahaman konsep keislaman substantif. Secara karakter, PBL sukses mengubah perilaku santri menjadi lebih jujur, sabar, toleran, akomodatif, bertanggung jawab, serta mampu menurunkan intensitas konflik di lingkungan pesantren.
Saran
- Bagi guru pelajaran akidah dan pelajaran akhlak. Diharapkan untuk menyusun sebuah "Bank Masalah Kontekstual" khusus dunia pesantren secara berkala, serta mengalokasikan pembagian peran kelompok secara heterogen guna menjembatani kesenjangan ke mampuan berpikir kritis antarsantri.
- Bagi Pimpinan Pesantren: Perlu memfasilitasi guru dengan program pelatihan (workshop) khusus mengenai sintaks PBL dan penilaian autentik, serta mengupayakan penyediaan sarana teknologi (ICT) terbatas yang terkontrol demi mendukung kelancaran riset santri.
- Bagi peneliti selanjutnya, disaran kan untuk meneliti pengembangan model instrumen penilaian autentik berbasis proses yang sinkron dengan kurikulum khas pesantren guna menyempurnakan sistem evaluasi berbasis PBL.
DAFTAR PUSTAKA
Arends, R. I. (2012). Learning to Teach (9th ed.). New York: McGraw-Hill
Asy’ari, Wibowo, K. B., & Abbas, N. (2025). Implementasi pembelajaran berbasis masalah (PBL) pada mata pelajaran Akidah Akhlak siswa kelas IX di Madrasah Tsanawiyah Negeri 4 Sragen. Lisyabab: Jurnal Studi Islam dan Sosial, 2(1), 12–25.
Graaff, E. D. (2003). The Principles of Problem-Based Learning: A Review of Characteristics and Effects. Amsterdam: Kluwer Academic Publishers.
Hilmansyah, D. (2023). Hasil belajar Akidah Akhlak melalui Problem Based Learning berbantuan Google Classroom berdasarkan sikap toleransi siswa. Piwulang: Jurnal Pendidikan Agama Islam, 8(2), 34–48.
Jumardin. (2025). Penerapan Model Pembelajaran Problem Based Learning Dalam Pembelajaran Aqidah Akhlak Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Kelas VIII MTs As’adiyah Pengkendekan Luwu Utara (Skripsi, UIN Palopo).
Moleong, L. J. (2021). Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Nafisah, M., Mutafi, A., & Munawaroh, H. (2025). Implementasi model Problem Based Learning (PBL) dalam menumbuhkan semangat belajar siswa kelas X pada pembelajaran Akidah Akhlak di MA Takhasus Alquran 1 Mojotengah. Jurnal Sains Student Research, 3(1), 35–49.
Naldi, A., et al. (2024). Membentuk akhlak mulia dalam pendidikan Islam. Jurnal Manajemen Pendidikan Agama Islam, 2(3), 50–61.
Novia, F. (2023). Konsep Akhlak Mulia Dalam Kitab Al-Akhlaku lil Banin Karya Umar Bin Ahmad Baraja (Doctoral dissertation, UIN Sultan Syarif Kasim Riau).
Nurhadi, Sofyan, H., & Komariah, R. S. (2009). Pembelajaran Kontekstual dan Implementasinya dalam Kurikulum Berbasis Kompetensi. Jakarta: Bumi Aksara.



